SepertiAkhir dari Dunia Karena Cinta #BertepukSebelahTangan, Padahal Cuma Cinta yang Tak Terbalas sifat obsesif Adriana yang sudah lebih dari kadar, membuatnya berubah menjadi seorang psikopat yang mengerikan. baik. Sifat Adriana yang destruktif di balik wajahnya yang lugu dan manis sekaligus agak sengak. Film The Crush yang diambil
Rabu, 24 Zulqaidah 1444 H / 2 Maret 2011 1630 wib views Oleh Badrul Tamam Alhamdulillah, segala puji Allah yang menjanjikan surga bagi hamba yang bertakwa. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabatnya. Sesungguhnya kebaikan hamba di dunia dan akhirat berporos pada takwa. Sehingga Allah Ta’ala memerintahkannya dalam banyak firman-Nya dengan beragam cara, salah satunya menjanjikan pahala besar bagi para hamba yang bertakwa. Tujuannya, agar mereka semakin semangat menjalankannya. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” QS. Ali Imran 102 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosa mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” QS. Al-Anfal 29 Menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di dalam tafsirnya Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, takwanya seorang hamba kepada Rabb-Nya merupakan tanda kebahagiaan dan alamat keberuntungannya. Dan Allah telah menetapkan pahala takwa yang sangat banyak yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Dan dalam ayat ini bahwa orang yang bertakwa kepada Allah mendapatkan empat hal, dan setiap bagiannya adalah lebih baik dari dunia dan apa yang ada di dalamnya Pertama, al-Furqan yaitu ilmu dan petunjuk yang dengannya dia bisa membedakan antara hidayah dan dhalalah kesesatan, hak dan batil, halal dan haram, orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang sengsara. Anugerah ini, seperti yang dinukil Ibnu Katsir dari Ibnu Ishaq , adalah menjadi sebab datangnya pertolongan, keselamatan dirinya, dan solusi bagi dirinya dari segala urusan dunia dan kebahagiaannya di akhirat. Kedua dan ketiga, Takfir Sayyiat penghapusan kesalahan dan Maghfirah Dunub ampunan dosa. Keduanya, ketika dipisah memiliki makna sama. Namun ketika dikumpulkan, Takfir Sayyiat berarti penghapusan dosa-dosa kecil, sedangkan Maghfirah Dunub yakni penghapusan dosa-dosa besar. Keempat, ganjaran besar dan pahala yang banyak bagi orang yang bertakwa dan lebih mengutamakan keridhaan Allah daripada hawa nafsunya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah, وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ “Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” QS. Al-Anfal 29 Menurut Syaikh Abu Bakar al-Jazairi dalam Aisar Tafasirnya, adalah surga dan kenikmatannya. Sungguh besar pahala yang akan didapatkan oleh orang yang menjalankan ketakwaan, yaitu mereka yang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Yaitu mereka yang ikhlash dalam seluruh amalnya, benar-benar ittiba’ mengikuti utusan Allah, berakhlak baik, berkata benar, semangat dalam kebaikan, berlomba meraih fadhilah, beribadah dengan keyakinan berada di hadapan-Nya dan disaksikan oleh-Nya, dan benar-benar takut kepada Allah dengan penuh kesadaran bahwa selalu mengawasinya dan melihatnya di masa saja dan kapan saja. Allahu Ta’ala a’lam. [PurWD/ Tulisan Terkait 1. Bertakwalah di Mana Saja Engkau Berada! 2. Takwa, Semudah itukah?? Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita! +Pasang iklan Gamis Syari Murah Terbaru Original FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai. Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas? Di sini Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan > jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub 0857-1024-0471 Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller NABAWI HERBA Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon 60%. Pembelian bisa campur produk > jenis produk.
Oleh Indah Puspasari Bekerja adalah sebuah aktivitas yang normal dilakukan oleh banyak orang sejak dulu hingga kini, baik oleh kaum muda, tua, kaya, maupun papa. Namun lambat laun, seiring dengan berubahnya pemahaman masyarakat yang disertai dengan tuntutan kehidupan, aktivitas bekerja kini menjadi berubah ritme dan tujuannya. Banyak orang yang
Banyak orang mendambakan kehidupan terbaik di dunia dan akhirat. Namun, tak sedikit di antara umat Islam justru kebingungan menentukan jalan hidupnya. Dunia seakan-akan menjadi surga yang sesungguhnya, padahal Alqur'an telah memberi petunjuk dan solusi terbaik atas persoalan yang dihadapi memang pilihan, namun semuanya tak terlepas dari soal keyakinan. Dalam Alqur'an , Allah Ta'ala mengingatkan manusia dengan firman-Nya yang artinya "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." Ayat ini sangat populer dan menjadi penegas bahwa hidup adalah ujian bagi manusia. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan makna ayat ini sebagai kematian di dunia dan kehidupan di akhirat. Barang siapa yang tunduk kepada perintah Allah dan memperbagus amalnya, maka Allah akan memperbagus balasan-Nya di dunia dan akhirat. Sebaliknya barang siapa yang mengikuti hawa nafsu dan menolak mengikuti perintah Allah, maka dia akan memperoleh balasan yang buruk. Rasulullah SAW juga mengingatkan manusia bahwa dunia adalah ladangnya akhirat. Mau tak mau, sadar atau tidak sadar, dunia akan pergi meninggalkan kita dan akhirat justru menghampiri kita. Alqur'an MenjawabAllah Ta'ala telah memberi petunjuk jelas dalam Alqur'an. Ada banyak ayat yang menjadi petunjuk bagi mereka yang mau menggunakan akal sehatnya, di antaranya Surah An-Nahl 16 ayat 97 "Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”Surah Az-Zumar 39 ayat 10 "Katakanlah Muhammad, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.' Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."Surah Al-Hujarat 49 ayat 13 "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal."Surah Al-Qashas 28 ayat 77 "Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." Surah Ali Imran 3 ayat 31 "Katakanlah Muhammad 'Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."Dari paparan ayat di atas jelaslah bahwa tujuan hidup sejatinya bukanlah dunia. Dunia hanyalah tempat ujian karena sifatnya tidak kekal sementara. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam satu hadits dari Abu Hurairah "Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu". Sejatinya, tujuan hidup bukanlah sekadar menginginkan surga, melainkan Allah adalah tujuannya dan keridhaan-Nya lah semata-mata yang dicari. Untuk meraih ridha Allah tentu butuh usaha, pengorbanan jihad, perjuangan, tekad, ijtihad, kegigihan dan Ta'ala memberi petunjuk dalam Surah Ali 'Imran ayat 31, apabila ingin mendapat ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat, maka ikuti dan taatilah Rasulullah SAW, hidupkan sunnahnya. Akhir kalam, sungguh tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dan kebahagiaan. Aamin rhs
1) Artinya: “Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.’!” (QS An-Nisa’ : 77) Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa kesenangan dunia ini hanya sedikit saja. Buat apa kita mengejar yang sedikit ini dan melalaikan yang lebih baik nanti.
– Kita acap kali tidak adil dalam memberi perhatian terhadap urusan dunia dan urusan akhirat. Seringkali seluruh perhatian dan potensi dikerahkan untuk urusan dunia, sedangkan akhirat seperlunya saja. Padahal dunia dan akhirat sangat tidak sebanding. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut dalam Kitab-Nya bahwa Akhirat lebih baik dari dunia. “Wal akhiratu khairun laka minal ula; dan akhirat lebih baik bagimu dari kehidupan yang pertama dunia”, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Adh-Dhuha. Bahkan akhirat tidak hanya lebih baik dari dunia. Ia juga lebih kekal. “Wal akhiratu khairun Wa abqa; dan akhirat lebih baik serta lebih kekal”, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat lain. Olehnya, tidak selayaknya kita mengerahkan seluruh perhatian dan potensi untuk dunia yang sementara lalu mengabaikan akhirat yang kekal dan lebih baik. Seharusnya perhatian dan kesungguhan kita terhadap dunia sekadar dengan singkatnya kita berdiam di sini. Demikian pula dengan akhirat, perhatian kita kepadanya hendaknya seukur dengan lamanya tinggal di sana, sebagaimana diwasiatkan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah. “Bekerjalah untuk duniamu seukur berapa lamanya kau akan tinggal di bumi. Dan bekerjalah untuk akhiratmu, seukur berapa lamanya kau akan hidup di sana”. Donasi Situs Islam Arrahmah Arrahmah Care Rp 0terkumpul Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita sebagai hambaNya, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri di antara kalian dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak ” QS al-Hadid 20. Saat melewati sebuah pasar, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya menemukan bangkai seekor anak kambing yang kecil telinganya. Beliau memegang telinga bangkai itu lalu mengangkatnya. Sambil menoleh beliau bertanya, “Siapakah diantara kalian yang mau membayar bangkai ini seharga satu dirham?” Dengan wajah heran para sahabat menjawab, “Bagi kami ia tidak ada nilainya sedikitpun. Apa yang dapat kami lakukan terhadap bangkai yang hina itu?” Beliau menambahkan lagi, “Bagaimana kalau bangkai ini diberikan cuma-cuma pada kalian?” Serentak mereka menimpali, “Demi Allah, seandainya-pun masih hidup kami tidak bakal tertarik. Ia adalah hewan cacat karena telinganya kecil, apalagi dengan kondisi sekarang yang telah menjadi bangkai?!, sudah tentu kami lebih tidak tertarik lagi”. Sambil tersenyum Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sungguh dunia di sisi Allah jauh lebih hina ketimbang bangkai anak kambing ini“ HR. Bukhari. Dalam kesempatan lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Andai dunia ini sepadan dengan sayap seekor nyamuk di sisi Allah, maka orang-orang kafir tidak bakal mendapat minum walau seteguk air“ HR. Tirmidzi. Inilah hakekat dunia sebenarnya. Sebuah kenyataan yang mengajak kita sadar. Jangan sampai gemerlap dan tipu dayanya menjadikan kita budak. Atau bahkan hamba baginya. Sebab, penghambaan terhadap dunia merupakan sumber segala kerusakan. Lihatlah kefajiran yang banyak dibuat anak Adam, dahulu hingga kini, hampir seluruhnya disebabkan cinta dunia. Dalam menyikapi kehidupan dunia dan tujuan akhirat yang dituju, anak adam terbagi menjadi dua Golongan pertama, mereka yang mengingkari kehidupan akhirat setelah alam dunia ini berakhir. Tentang mereka, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan tidak percaya akan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan“. QS Yunus 7. Golongan kedua, mereka yang meyakini adanya hari pembalasan pasca kehidupan dunia. Golongan ini mengakui para Rasul serta membenarkan risalahnya. Kendati kondisi mereka bertingkat, seperti disinggung dalam firman-Nya, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” QS. Fathir 32. Berdasarkan ayat di atas, golongan kedua ini Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi mereka ke dalam beberapa kelompok, yaitu Pertama, zaalimun linafsihi. Yakni, orang yang menzalimi diri sendiri. Dalam kehidupan ini mereka banyak terjebak dalam perkara-perkara haram. Sebab bagi mereka, dunia adalah segalanya. Wala’ kecenderungan-nya pun sepenuhnya diserahkan pada dunia. Makanya, mereka dikatakan menzalimi diri sendiri. Karena sikap mereka itu sedikitpun tidak memberi mudharat bagi Allah Ta’ala. Akan tetapi, akibat dari perbuatan mereka itu kembali pada diri sendiri. Gerak hidup mereka kebanyakan didominasi kepentingan hawa nafsu dan pemuasan syahwat hewani. Kedua, muqtashid. Yakni, golongan pertengahan. Mereka menikmati kehidupan dunia dari arah yang dibolehkan, disamping melaksanakan seluruh kewajiban yang dibebankan syari’at. Golongan ini tidak tercela. Hanya saja derajat mereka di sisi Allah Ta’ala tidaklah istimewa. Diriwayatkan, Umar bin al-Khattab t berkata, “Seandainya bukan karena takut derajatku di surga akan berkurang, sudah pasti aku akan mendahului kalian dalam hal kehidupan dunia. Saya mendengar Allah Ta’ala mencela suatu kaum melalui firman-Nya, “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu saja dan kamu telah bersenang-senang dengannya“ QS al-Ahqaf 20. Ketiga, sabiqun bi al-khairaat. Yakni, orang-orang yang bersegera mengerjakan amal-amal kebajikan. Mereka paham hakikat kehidupan dunia ini. Mengerti maksud dan tujuan mengapa mereka diciptakan. Hingga akhirnya mengarahkan mereka mengubah segala gerak dalam hidup sebagai amal dan ibadah kepada Allah Ta’ala. Disamping itu, mereka sadar, bahwa Allah Ta’ala menempatkan segenap hambaNya di bumi untuk menjalani ujian. Hal ini, agar kelihatan siapa yang paling baik amalnya. Paling zuhud terhadap dunia. Dan paling cinta pada negeri akhirat. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” QS al-Kahfi 7, demikian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka merasa cukup mengambil dunia sekedar bekal menghadapi perjalanan panjang. Karena dunia, menurut mereka, adalah terminal mengisi segala perbekalan yang dibutuhkan. Olehnya, Allah Ta’ala mengingatkan kita akan hal itu “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa“ QS al-Baqarah 97. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apa urusanku dengan dunia ini?!, tidaklah aku di dunia melainkan ibarat pejalan kaki yang berlindung di bawah naungan sebatang pohon, istirahat, lalu pergi meninggalkannya“. HR. Tirmidzi. Artinya, kampung sebenarnya bagi hamba adalah kampung akhirat. Keluarga hakiki baginya adalah keluarga di akhirat. Harta kekayaan sebenarnya adalah harta di akhirat. Merugilah orang-orang yang tega menjual akhiratnya demi mengais secuil kesenangan dunia yang fana. Makanya, tanamkan niat taqwa dalam seluruh aktifitas hidup. Hal mana agar setiap perbuatan kita di muka bumi bernilai pahala di sisi-Nya. Sebab demikianlah maksud keberadaan kita di dunia. Ibadah, dan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Mu’adz bin Jabal t berkata, “Aku mengharapkan pahala dari tidurku, sebagaimana mengharapkan pada waktu terjagaku shalat malam”. Mengapa kita selalu lelah di dunia ini? Sebelum menjawabnya, marilah kita melihat dan merenungi bagaimana al-Qur’an bertutur kepada kita. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berdzikir dan mengerjakan shalat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Wahai orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka berlarilah bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” QS. al-Jumu’ah 9. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk melakukan kebaikan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan” QS. al-Baqarah 148. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memohon dan meraih ampunanNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga” QS. Ali-Imran 133. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk kembali dan menuju kepadaNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka berlarilah kembali ta’at kepada Allah” QS. Adz-Dzaariyat 50. Seluruh bentuk perintah untuk akhirat di dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya dengan kata atau kalimat perintah ; bersegeralah, berlarilah, bergegaslah, dan kata-kata lainnya yang semakna. Namun, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara tentang dunia dan semua bentuk kenikmatan yang ada di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata atau kalimat dalam bentuk lainnya. Mari kita lihat. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang urusan menjemput rizki duniawi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari RizkiNya” QS. Al-Mulk 15. Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menggunakan kata atau kalimat perintah; bersegeralah, berlarilah, bergegaslah, dan kata-kata lainnya yang semakna seperti pada perkara-perkara akhirat di atas. Namun, dalam ayat tersebut, untuk urusan dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala cukup menggunakan kata atau kalimat “berjalanlah”. Jika kita mau merenungi hal ini, semestinya kita bisa memahami, kapan kita perlu berlari, atau menambah kecepatan lari kita, atau bahkan cukup berjalan saja. Jangan-jangan, selama ini kita merasa lelah, karena malah berlari mengejar dunia yang seharusnya cukup dengan berjalan. Oleh karena itu, sekali lagi, adillah Saudaraku! Adil itu tidak harus sama. Tapi, adil itu ketika kita mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ya, akhirat tempatnya teramat jauh dan tinggi dibandingkan dunia. “Dunia dibanding akhirat tiada lain hanyalah seperti jika seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya kelautan, maka hendaklah ia melihat air yang menempel di jarinya setelah ia menariknya” HR. Muslim, begitu pesan Nabi kita. Namun, betapapun akhirat menjadi tujuan tertinggi, tentu saja dunia adalah bagian dari kehidupan kita yang tidak dilupakan. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi” QS. Al-Qashas 77, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sebuah ayatNya. Maksudnya yaitu gunakanlah harta yang banyak dan nikmat yang berlimpah yang telah Allah berikan kepadamu di dalam ketaatan kepada Rabmu dan untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai macam bentuk taqarrub, yang dengannya engkau akan mendapatkan pahala di negeri akhirat. Namun, janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi yaitu apa- apa yang telah Allah halalkan untukmu di dunia seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan pernikahan, sesungguhnya Rabmu mempunyai hak darimu, dirimu mempunyai hak darimu, keluargamu mempunyai hak darimu, istriu mempunyai hak darimu, maka berikanlah hak kepada setiap pemilik hak Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 253-254. Wallahu a’lam. Oleh Azwar Iskandar/Wahdah */
Hijrah tidak akan terhenti hingga terputusnya pintu taubat & pintu taubat tidak pernah terputus hingga matahari terbit dari arah barat.”(𝙃𝙍. 𝘼𝙗𝙪 𝘿𝙖𝙬𝙪𝙙).Mohon maaf jika ada salah samada saya sengaja atau tidak sengaja.Semoga Allah Merahmati dan Melindungi kita semua di Dunia dan Akhirat..Semoga tahun baru nanti
Kita acap kali tidak adil dalam memberi perhatian terhadap urusan dunia dan urusan akhirat. Seringkali seluruh perhatian dan potensi dikerahkan untuk urusan dunia, sedangkan akhirat seperlunya saja. Padahal dunia dan akhirat sangat tidak sebanding. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut dalam Kitab-Nya bahwa Akhirat lebih baik dari dunia. “Wal akhiratu khairun laka minal ula; dan akhirat lebih baik bagimu dari kehidupan yang pertama dunia”, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Adh-Dhuha. Bahkan akhirat tidak hanya lebih baik dari dunia. Ia juga lebih kekal. “Wal akhiratu khairun Wa abqa; dan akhirat lebih baik serta lebih kekal”, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat lain. Olehnya, tidak selayaknya kita mengerahkan seluruh perhatian dan potensi untuk dunia yang sementara lalu mengabaikan akhirat yang kekal dan lebih baik. Seharusnya perhatian dan kesungguhan kita terhadap dunia sekadar dengan singkatnya kita berdiam di sini. Demikian pula dengan akhirat, perhatian kita kepadanya hendaknya seukur dengan lamanya tinggal di sana, sebagaimana diwasiatkan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah. “Bekerjalah untuk duniamu seukur berapa lamanya kau akan tinggal di bumi. Dan bekerjalah untuk akhiratmu, seukur berapa lamanya kau akan hidup di sana”. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita sebagai hambaNya, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri di antara kalian dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak ” QS al-Hadid 20. Saat melewati sebuah pasar, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya menemukan bangkai seekor anak kambing yang kecil telinganya. Beliau memegang telinga bangkai itu lalu mengangkatnya. Sambil menoleh beliau bertanya, “Siapakah diantara kalian yang mau membayar bangkai ini seharga satu dirham?” Dengan wajah heran para sahabat menjawab, “Bagi kami ia tidak ada nilainya sedikitpun. Apa yang dapat kami lakukan terhadap bangkai yang hina itu?” Beliau menambahkan lagi, “Bagaimana kalau bangkai ini diberikan cuma-cuma pada kalian?” Serentak mereka menimpali, “Demi Allah, seandainya-pun masih hidup kami tidak bakal tertarik. Ia adalah hewan cacat karena telinganya kecil, apalagi dengan kondisi sekarang yang telah menjadi bangkai?!, sudah tentu kami lebih tidak tertarik lagi”. Sambil tersenyum Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sungguh dunia di sisi Allah jauh lebih hina ketimbang bangkai anak kambing ini“ HR. Bukhari. Dalam kesempatan lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Andai dunia ini sepadan dengan sayap seekor nyamuk di sisi Allah, maka orang-orang kafir tidak bakal mendapat minum walau seteguk air“ HR. Tirmidzi. Inilah hakekat dunia sebenarnya. Sebuah kenyataan yang mengajak kita sadar. Jangan sampai gemerlap dan tipu dayanya menjadikan kita budak. Atau bahkan hamba baginya. Sebab, penghambaan terhadap dunia merupakan sumber segala kerusakan. Lihatlah kefajiran yang banyak dibuat anak Adam, dahulu hingga kini, hampir seluruhnya disebabkan cinta dunia. Dalam menyikapi kehidupan dunia dan tujuan akhirat yang dituju, anak adam terbagi menjadi dua Golongan pertama, mereka yang mengingkari kehidupan akhirat setelah alam dunia ini berakhir. Tentang mereka, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan tidak percaya akan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan“. QS Yunus 7. Golongan kedua, mereka yang meyakini adanya hari pembalasan pasca kehidupan dunia. Golongan ini mengakui para Rasul serta membenarkan risalahnya. Kendati kondisi mereka bertingkat, seperti disinggung dalam firman-Nya, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” QS. Fathir 32. Berdasarkan ayat di atas, golongan kedua ini Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi mereka ke dalam beberapa kelompok, yaitu Pertama, zaalimun linafsihi. Yakni, orang yang menzalimi diri sendiri. Dalam kehidupan ini mereka banyak terjebak dalam perkara-perkara haram. Sebab bagi mereka, dunia adalah segalanya. Wala’ kecenderungan-nya pun sepenuhnya diserahkan pada dunia. Makanya, mereka dikatakan menzalimi diri sendiri. Karena sikap mereka itu sedikitpun tidak memberi mudharat bagi Allah Ta’ala. Akan tetapi, akibat dari perbuatan mereka itu kembali pada diri sendiri. Gerak hidup mereka kebanyakan didominasi kepentingan hawa nafsu dan pemuasan syahwat hewani. Kedua, muqtashid. Yakni, golongan pertengahan. Mereka menikmati kehidupan dunia dari arah yang dibolehkan, disamping melaksanakan seluruh kewajiban yang dibebankan syari’at. Golongan ini tidak tercela. Hanya saja derajat mereka di sisi Allah Ta’ala tidaklah istimewa. Diriwayatkan, Umar bin al-Khattab t berkata, “Seandainya bukan karena takut derajatku di surga akan berkurang, sudah pasti aku akan mendahului kalian dalam hal kehidupan dunia. Saya mendengar Allah Ta’ala mencela suatu kaum melalui firman-Nya, “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu saja dan kamu telah bersenang-senang dengannya“ QS al-Ahqaf 20. Ketiga, sabiqun bi al-khairaat. Yakni, orang-orang yang bersegera mengerjakan amal-amal kebajikan. Mereka paham hakikat kehidupan dunia ini. Mengerti maksud dan tujuan mengapa mereka diciptakan. Hingga akhirnya mengarahkan mereka mengubah segala gerak dalam hidup sebagai amal dan ibadah kepada Allah Ta’ala. Disamping itu, mereka sadar, bahwa Allah Ta’ala menempatkan segenap hambaNya di bumi untuk menjalani ujian. Hal ini, agar kelihatan siapa yang paling baik amalnya. Paling zuhud terhadap dunia. Dan paling cinta pada negeri akhirat. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” QS al-Kahfi 7, demikian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka merasa cukup mengambil dunia sekedar bekal menghadapi perjalanan panjang. Karena dunia, menurut mereka, adalah terminal mengisi segala perbekalan yang dibutuhkan. Olehnya, Allah Ta’ala mengingatkan kita akan hal itu “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa“ QS al-Baqarah 97. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apa urusanku dengan dunia ini?!, tidaklah aku di dunia melainkan ibarat pejalan kaki yang berlindung di bawah naungan sebatang pohon, istirahat, lalu pergi meninggalkannya“. HR. Tirmidzi. Artinya, kampung sebenarnya bagi hamba adalah kampung akhirat. Keluarga hakiki baginya adalah keluarga di akhirat. Harta kekayaan sebenarnya adalah harta di akhirat. Merugilah orang-orang yang tega menjual akhiratnya demi mengais secuil kesenangan dunia yang fana. Makanya, tanamkan niat taqwa dalam seluruh aktifitas hidup. Hal mana agar setiap perbuatan kita di muka bumi bernilai pahala di sisi-Nya. Sebab demikianlah maksud keberadaan kita di dunia. Ibadah, dan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Mu’adz bin Jabal t berkata, “Aku mengharapkan pahala dari tidurku, sebagaimana mengharapkan pada waktu terjagaku shalat malam”. Mengapa kita selalu lelah di dunia ini? Sebelum menjawabnya, marilah kita melihat dan merenungi bagaimana al-Qur’an bertutur kepada kita. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berdzikir dan mengerjakan shalat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Wahai orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka berlarilah bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” QS. al-Jumu’ah 9. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk melakukan kebaikan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan” QS. al-Baqarah 148. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memohon dan meraih ampunanNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga” QS. Ali-Imran 133. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk kembali dan menuju kepadaNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka berlarilah kembali ta’at kepada Allah” QS. Adz-Dzaariyat 50. Seluruh bentuk perintah untuk akhirat di dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya dengan kata atau kalimat perintah ; bersegeralah, berlarilah, bergegaslah, dan kata-kata lainnya yang semakna. Namun, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara tentang dunia dan semua bentuk kenikmatan yang ada di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata atau kalimat dalam bentuk lainnya. Mari kita lihat. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang urusan menjemput rizki duniawi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari RizkiNya” QS. Al-Mulk 15. Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menggunakan kata atau kalimat perintah; bersegeralah, berlarilah, bergegaslah, dan kata-kata lainnya yang semakna seperti pada perkara-perkara akhirat di atas. Namun, dalam ayat tersebut, untuk urusan dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala cukup menggunakan kata atau kalimat “berjalanlah”. Jika kita mau merenungi hal ini, semestinya kita bisa memahami, kapan kita perlu berlari, atau menambah kecepatan lari kita, atau bahkan cukup berjalan saja. Jangan-jangan, selama ini kita merasa lelah, karena malah berlari mengejar dunia yang seharusnya cukup dengan berjalan. Oleh karena itu, sekali lagi, adillah Saudaraku! Adil itu tidak harus sama. Tapi, adil itu ketika kita mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ya, akhirat tempatnya teramat jauh dan tinggi dibandingkan dunia. “Dunia dibanding akhirat tiada lain hanyalah seperti jika seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya kelautan, maka hendaklah ia melihat air yang menempel di jarinya setelah ia menariknya” HR. Muslim, begitu pesan Nabi kita. Namun, betapapun akhirat menjadi tujuan tertinggi, tentu saja dunia adalah bagian dari kehidupan kita yang tidak dilupakan. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi” QS. Al-Qashas 77, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sebuah ayatNya. Maksudnya yaitu gunakanlah harta yang banyak dan nikmat yang berlimpah yang telah Allah berikan kepadamu di dalam ketaatan kepada Rabmu dan untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai macam bentuk taqarrub, yang dengannya engkau akan mendapatkan pahala di negeri akhirat. Namun, janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi yaitu apa- apa yang telah Allah halalkan untukmu di dunia seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan pernikahan, sesungguhnya Rabmu mempunyai hak darimu, dirimu mempunyai hak darimu, keluargamu mempunyai hak darimu, istriu mempunyai hak darimu, maka berikanlah hak kepada setiap pemilik hak Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 253-254. Wallahu a’lam. Oleh Azwar Iskandar
Sejatinya dunia memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 29 yang artinya berbunyi, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”.
Salah satu inti dari ajaran agama-agama langit adalah kepercayaan terdapat “dunia” setelah “dunia”. Sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk memahami maksud dari pengertian dunia dan akhirat, karena dalam kepercayaan agama Islam dunia hanyalah sebuah persimpangan dan tempat singgah sebelum mencapai kehidupan sebenarnya di akhirat kelak. Jangan sampai apa yang seharusnya menjadi tujuan utama malah tersisihkan oleh hal yang bersifat sementara. Untuk mengetahuinya bagaimana sebenarnya hakikat dari kehidupan dunia dan akhirat, segala berita dan informasi dapat ditemukan secara tekstual baik dari Al Quran maupun Hadis Rasulullah Saw. Dalam agama Islam sendiri kehidupan dunia dan akhirat tidaklah bisa dipisahkan, hal ini bisa terlihat dari teks-teks keagamaan yang hampir selalu menyandingkan antara dunia dan akhirat. Jika bisa disederhanakan, kehidupan dunia dalam agama Islam bagaikan tabungan amalan yang akan dibayarkan semuanya di kehidupan akhirat. Bagaimana Islam memandang kehidupan dunia dan akhirat? Allah Swt, berfirman dalam surat Al Hadid ayat 20 اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ Yang artinya “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” Imam Ath Thobari dalam tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini dan berkata “Ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya kehidupan dunia saat ini tidaklah hanya berupa permainan yang kamu tertawa dengannya, dan juga keindahan yang kamu berhias dengannya, dan pencapaian dimana kamu bisa berbangga karenanya.” Dan lihatlah permisalan yang Al Quran sampaikan, kehidupan dunia yang sesaat digambarkan dengan tanaman-tanaman hijau ranum yang mengagumpakan para petani, yang sesaat kemudia menguning dan kemudian hancur oleh waktu. Permisalan yang diberikan oleh Al Quran amatlah related dengan kehidupan manusia. Untuk mencukupkan segala kebutuhannya, manusia terkadang berusaha amat keras, dan mengeluarkan segala kemampuan yang dimilikinya, bahkan tidak takut untuk menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Di saat mereka mendapatkan apa yang diusahakan, lantas segala kenikmatan tersebut melupakannya dari hal primer yang justru harusnya menjadi tujuan utama, yaitu kehidupan akhirat yang kekal. Selanjutnya, apa sudut pandang Islam tentang akhirat? Secara garis besar Islam amatlah mengutamakan kehidupan akhirat yang sifatnya kekal dan abadi. Ia menjadi peraduan terakhir umat manusia untuk kembali kepada Tuhannya. Banyak ayat Al Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw yang menyatakan hal tersebut, di antaranya adalah وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ Artinya “Dan kehidupan akhirat lebih baik untukmu dari kehidupan pertama dunia”, dan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Mas’ud Ra, dikisahkan Rasulullah Saw sedang terlelap di atas sebuah karpet yang ditenun dari bahan yang hangat. Maka beliau meletakannya di samping tidak menggunakannya. Maka Ibnu Mas’ud berkata, apakah engkau izinkan kami agar kami melapangkan karpet ini untukmu? Rasulullah Saw berkata “Apalah aku dari dunia ini?” Beliau Saw mengatakannya dua kali. Lantas beliau berkata “permisalanku dan dunia ini bagaikan seorang penunggang kuda yang berteduh sementara di bawah bayangan pohon, kemudia ia pergi dan meninggalkannya.” Lihatlah, betapa Rasulullah Saw bahkan hanya untuk terlelap di atas sebuah karpet yang sedikit menghangatkannya, beliau pun menolak. Beliau memberikan pengertian dunia dan akhirat ditambah memberikan permisalan untuknya, bahwa dunia ini bagaikan seorang yang sedang beristirahat di bawah riung pohon. Tentu seorang yang beristirahat tidak akan berleha-leha dan menghabiskan sisa umur di tempat itu. Ia perlu untuk kembali ke rumah hakikinya. Ke tempat ia diciptakan oleh penciptanya. Bagaimana kita bersikap kepada dunia dan akhirat? Walau bagaimanapun Islam adalah agama yang seimbang dan melihat seluruh aspek kehidupan. Ia menjadi rujukan dalam menjalani kehidupan. Hanya karena kehidupan akhirat adalah tujuan, hal tersebut tidak membuat kita menghilangkan esensi tugas dan kewajiban yang perlu dilakukan di dunia. Dalam surat Al Qashas, ayat 77 Allah Swt berfirman وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ Yang artinya “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Dengan demikian jelaslah sudah peran dan pengertian dunia dan akhirat bagi seorang Muslim. Goal seorang muslim adalah kehidupan akhirat, namun ia perlu menjalani dan “bermain” di dunia ini dengan baik yaitu dengan cara mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah Swt. Wallahua’lam bishowab _ Penulis Albi Tisnadi Ramadhan, Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab. Editor Azman Hamdika Syafaat
0OJKH. 4f7yuq39j5.pages.dev/5724f7yuq39j5.pages.dev/674f7yuq39j5.pages.dev/3024f7yuq39j5.pages.dev/1964f7yuq39j5.pages.dev/244f7yuq39j5.pages.dev/2444f7yuq39j5.pages.dev/4744f7yuq39j5.pages.dev/547
akhirat lebih baik dari dunia